diary pernikahan istikharah

Istikharah cinta

dalam hening sujud mengalun sebening-bening doa
menyisir semua rasa
pada jiwa yang tengah bertanya

Istikharah cinta

mengalir menitik mengaksara
menjadi bait-bait tanda
yang hadir menyelimuti jiwa
teduh syahdu tak bergoyah

 

 

“Setiap kita punya hati, dan di dalamnya nurani kita terus bergelatar menyuarakan  pesan Ilahi. Permasalahanya kemudian adalah bisa tidaknya pesan nurani  itu bergerak keluar menembus dinding hati lalu terdengar. Sering kali ia hanya berbisik. Tak jelas, atau bahkan terbungkam. Itu karena karat-karat dosa menjerujinya.  Kemudian, setiap suara hati hanya mampu menggetarkan jeruji-jeruji itu.  Hingga seringkali kita mengira suatu bisikan sebagai suara hati, padahal itu adalah geretak jeruji dosa dan palang-palang nafsu. Nurani yang berbisik, menyakiti hawa nafsu yang mengungkungnya. Lalu hawa nafsu itu berteriak nyaring. Dan dialah yang kita dengar.”

-Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A. Fillah-

Jawaban itu masih menggantung. Ya atau tidak? Sekarang atau nanti? Dia atau bukan dia? Aku atau bukan aku? Ada yang muncul dalam hati. Tapi suara bising masing menggaungi. Dan saat itu yang perlu kulakukan adalah istikharah. MenyertakanNya selalu dalam setiap keputusan namun lebih ‘intim’ lagi dalam hal ini.

Emm istikharah buat apa ya? Kalau belum nyambung sama ceritanya, mending baca dulu dari awal ya.. Hehe:

Diary Pernikahan Bagian 1
Diary Pernikahan Bagian 2
Diary Pernikahan Bagian 3
Diary Pernikahan Bagian 4

 

Oke. siap lanjut ke cerita berikutnya ya.

Kontan aku spechless. Antara sudah kuduga dan tidak percaya. Beberapa kali meyakinkan diri bahwa ini asli, bukan fiktif dan rekayasa. Kemudian kuminta mamah melanjutkan, penasaran jawaban apa yang mamah lontarkan. Dugaanku mengarah ke SIM (read: Surat Izin Menikah) yang belum turun dengan catatan belum cukup umur. Tapi ternyata meleset. Yang diutarakan mamah tentang ingin tahu jawaban dariku dahulu, dan meminta waktu selama kurang lebih satu minggu pada pria itu, untuk memberikan jawaban. Wew, tak disangka mamah oh mamah…

Aku teringat dengan teman akhwat yang sebelumnya sudah memberi kabar padaku. Kucoba untuk menghubunginya dan memberi kabar bahwa sang ‘dia’ sudah datang ke rumah dan mengutarakan maksud serta tujuannya. Untuk itu aku perlu mengetahui tentangnya lebih jauh. Aku meminta bidata singkat – kalau ada- kalau ngga ada harus ada. Padahal aku sendiri tidak punya biodata taaruf paling adanya Curriculum Vitae lamaran kerja. Selang beberapa hari, biodata itu sudah kuterima via email.

 

Satu minggu. Pikiranku acak kadut. Kembali kubertanya pada hati kecil ini. Apakah siap atau belum siap menikah? Siap menanggung segala resiko? Lalu, kalau siap dalam waktu dekat apakah dengan pria itu?

Kueja setiap pertanyaan. Berat keputusan yang harus diambil. Seperti yang sudah pernah diceritakan, aku mengenalnya lebih banyak via online sedangkan offline hanya  pertemuan di komunitas dan itu pun jarang ada komunikasi antara kami. Dari biodata itu setidaknya menambah wawasan *apa banget nih* dan menjadi materi bagiku untuk mempresentasikannya ke mamah. Dari biodata itu pun jadi lebih jelas segala praduga. Yang hanya sekilas tahu setidaknya di biodata dijelaskan juga jadi lebih mantap bahwa kesehariannya atau sifatnya memang begitu. Meski biodata tak bisa menjelaskan semuanya. Satuan, puluhan bahkan ratusan lembar tak cukup. Karena seperti yang sudah pernah disampaikan Ust Salim A Fillah, taaruf itu prosesnya seumur hidup.

Mamah ingin aku memikirkannya secara matang. Menentukan pilihan dengan mantap. Dengan berbagai masukan. Nasihat mamah yang kuingat adalah,

“Menikah itu bukan hanya menyatukan dua manusia. Namun lebih dari itu. Penyatuan keluarga, budaya, dan lain-lain. Bukan hanya soal kesiapan mental tapi juga fisik. Bukan hanya soal fisik tapi juga soal mental. Interaksi dengan lebih banyak orang. Perbedaan pendapat atau pandangan dalam keluarga pasangan, segala jenis gesekan mungkin saja terjadi dan mereka punya budaya yang berbeda, cara penyelesaian yang berbeda, barangkali tidak lebih mudah dibandingkan ketika kita punya masalah dengan keluarga kita saat ini. Pun soal fisik, jika toh nanti dikaruniai anak secara langsung. Mengandung di bawah usia 20 tahun rentan keguguran. Meski tidak semuanya, kita belajar dari pengalaman.”

Pengutaraan yang benar-benar dari hati seorang ibu untuk anak gadisnya. Aku adalah anak pertama yang ada di saat ombak dan badai menerpa bahtera rumah tangga kedua orangtua. Kemerosotan keadaan ekonomi. Goresan-goresan entah kecil atau besar dalam keluarga. Ujian demi ujian. Aku berjarak cukup jauh dari adik pertamaku disebabkan mamah harus keguguran hingga tiga kali bahkan sebelum aku lahir, pernah mengalami keguguran sekali. Hingga dokter pernah menyarankan pengangkatan rahim. Tapi bapak tidak mengizinkan. La haula wala quwwata illa billah.

Istikharah

“Jika salah seorang di antara kalian berniat dalam suatu urusan, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang bukan shalat wajib, kemudian berdoalah…” (HR. Al-Bukhari)

Shalat istikharah bisa dilakukan kapan pun. Jujur saja aku baru mencari tahu lebih detail tentang istikharah saat itu. Dan baru kuketahui bahwa waktunya tidak harus di sepertiga malam, meski itu lebih baik. Bahkan di waktu dhuha pun bisa. Kembali lagi pada hadits yang pada intinya selain dari shalat wajib dan urusannya pun tidak khusus pada apa yang kualami itu saja.

Istikharah. Ketika jalan terasa buntu tanpa arah. Istikharah. Hadirkan pelita di saat gelap menyergap. Istikharah. Menyertakannya dalam setiap saat, tiap sehat, tiap sakit, tiap nafas, tiap detak, tiap derap, tiap langkah. Sebab bahkan diri sendiri tidak tahu mana yang terbaik. Sebab diri sendiri tak jarang dilumuri oleh keinginan-keinginan duniawi.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

 

Pertimbangan

Di sini aku mencoba membagi pertimbangan menjadi dua. Waktu itu sih belum kepikiran dirinci begini. Saat nulis di blog aja supaya sharingnya lebih mudah dipahami hehehe. Yang pertama pertimbangan internal dari dalam diriku sendiri, yang kedua pertimbangan eksternal yang berasal dari luar tepatnya calon pendamping hidup kita.

    1. Pertimbangan Internal
      Pertimbangan Internal aku dapat saripati ilmu dari buku Agar Bidadari Cemburu Padamu tulisan Ust. Salim A Fillah. Poin ini ada di dalam nasihat pernikahan dalam dakwah.a) Mengukur kualitas diri. Ini tentang kemantapan kita. Apakah kita seseorang yang memiliki argumentasi kuat, berpendirian, menegakkan manajemen cinta dan cinta sehat (jangan sampai nih kita terjebak cinta monyet – ujug-ujug jatuh hati terus endingnya mau mau mau nikah aja tapi tidak lama rasa itu hilang malah sebaliknya kan berabe). Kualitas diri menurut Ust Salim A Fillah juga menyangkut bekal ilmu, bekal keyakinan, bekal pernikahan dan lainnya.

      Baca poin ilmu itu aku nyengir-nyengir sendiri. Beberapa kali ‘merasa’ nyasar ikut kajian temanya seputar jodoh dan pernikahan eh ternyata memang penting juga ya. MasyaAllah. Meski begitu rasanya ilmuku belum seberapa. Namun jika dipikirkan kembali, entah sampai kapan ilmu itu ‘terasa’ cukup. Dari sinilah masuk ke poin pertimbangan internal selanjutnya…

      b) Mempersiapkan kualiatas diri. Modal utamanya adalah kesiapan untuk terus belajar dan membersamai orang-orang shalih.

    2. Pertimbangan Eksternal
      Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jika datang kepada kalian orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan puteri kalian). Sebab jika kalian tidak melakukannya, akan lahir fitnah dan muncul kerusakan di muka bumi.” 

      Adalah seorang laki-laki bertanya, ” Ya Rasulullah, bagaimana jika orang itu cacat atau kekurangan?”Maka beliau, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dengan mengulanginya tiga kali, “Jika datang kepada kalian orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan puteri kalian).” (HR. At Tirmidzi).Apakah cukup hanya dengan akhlaknya? Bagaimana dengan kufu? Atau parasnya? Semua kembali ke masing-masing diri asalkan ada dasarnya.

      Tentang sekufu:
      “Wahai Ali, ada tiga perkara yang jangan kau tunda pelaksanannya; shalat apabila telah tiba waktunya, jenazah apabila telah siap penguburannya, dan wanita apabila telah menemukan jodohnya yang sekufu/sepadan” (HR. Tirmidzi)

      Tentang paras:
      Saat istri Tsabit bin Qais mengutarakan tentang keinginannya untuk berpisah dengan Tsabit karena paras sang suami dan rasulullah tak melarang. Maka semoga kisah Tsabit bin Qais dan isterinya bisa menjadi ibrah bagi kita.

      Semua sah-sah saja. Namun izinkan diri mengurutkannya sesuai apa yang dulu pernah menjadi pertimbangan. Semua kembali ke hadist awal yang di sampaikan di sini.

      Barangkali di antara kita ada yang mengingat,
      Kalau dapat jodoh yang kaya nilainya, 0
      Kalau dapat jodoh yang ganteng nilainya, 0 >> jadi 00
      Kalau dapat jodoh yang soleh nilainya, 1 >> posisinya di depan.. jadi 100
      Ngga ada soleh, ngga akan ada nilainya meski apapun hal-hal duniawinya melimpah ia tetap nol.

 

Jawaban Istikharah

Mimpi bukan satu-satunya jalan yang menjadi jawaban atas tiap lirih doa. Istikharah meranumkan buah yang sebelumnya muda menjadi siap panen meski hembus angin tak jarang menggoyahkan tangkainya hingga beberapa dedaunan gugur. Istikharah memohon kecenderungan dan kemantapan di dalam hati nurani untuk bergerak dalam keridhaanNya.

Beberapa hari sudah berlalu. Waktu satu minggu tidak lama lagi. Hampir tiap hari mamah menerorku untuk menanyakan jawaban. Aku masih terdiam. Meminta waktu lagi. Berat untuk memberi keputusan. Meski jujur saja, hati condong pada suatu pilihan. Tapi ah terlalu banyak tapi. Aku memikirkan kuliah, pekerjaan, keluargaku saat ini. Sedangkan beliau, pria tersebut bermaksud untuk menikah dalam waktu dekat. Maksimal satu tahun. Kalau bisa secepatnya.

Aku sudah memperkenalkan beliau secara garis besar ke mamah. Dan aku juga tidak hanya berdiam diri dan bungkam. Aku dan mamah terlibat dalam ruang hati ibu dan anak. Kami saling share tentang pernikahan meski aku lebih banyak mendengar karena belum berpengalaman. Kini tugasku selesai, meski sampai detik itu aku tak memberi kepastian jawaban. Aku belum merasa sangat terdesak oleh pernikahan. Aku percaya pada mamah.  Dari rahimnya-lah aku terlahir dan keridhaan orang tua adalah keridhaanNya. Jika memang mamah memutuskan untuk tidak melanjutkan, maka biarlah pria itu menemukan jodohnya sebab tak mungkin jika harus menungguku selesai kuliah seperti keinginan orang tua.  Dengan kata lain, inilah saatnya takdir yang bicara.

Belum sampai seminggu, pagi-pagi sebelum bernagkat ke kantor aku menerima sms dari mamah…

restu ibu